kalo udah baca silahkan kasih komentar...Bebas asal tidak SARA.Thanks. Buat sementara bakal diposting 1 minggu sekali...
Setiap RE-POST akan ditampilkan sumber aslinya,,jadi mohon bagi yang repost tulisan saya juga menampilkan sumber ini...JANGAN MEMBAJAK!!!
(jika anda ingin me-repost. harap memberi komen. lalu saya akan mengirimnya melalui email anda.hatur nuhun)

Aksiologi: Menilai Kegunaan Ilmu

Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan manusia. Dalam hal ini maka ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat dan martabat manusia, serta harus diaplikasikan dengan memperhatikan keseimbangan alam.
Untuk kepentingan manusia tersebut, maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh harus tersusun dan dipergnakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang merupakan milik bersama dan setiapmorang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Dan universal yang memiliki pengertian bahwa ilmu tidak memiliki konotasi parochial seperti ras, ideologi atau agama.



Ilmu dan Moral
Perkembangan ilmu tidak pernah terlepas dari ketersinggungannya dengan berbagai masalah moral. Baik atau buruknya ilmu, sangat dipengaruhi oleh kebaikan atau keburukan moral yang para penggunanya. Peledakan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat, merupakan sebuah contoh penyalahgunaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sudah maju pada jamannya.
Pada dasarnya masalah moral, tidak bisa dilepaskan dari tekad manusia untuk menemukan dan mempertahankan kebenaran. Moral sangat berkaitan dengan nilai-nilai, serta cara terhadap suatu hal.
Pada awal masa perkembangannya, ilmu seringkali berbenturan dengan nilai moral yang diyakini oleh masyarakat. Oleh karena itu, sangat banyak ilmuwan atau ahli filsafat yang dianggap gila atau bahkan dihukum mati oleh penguasa pada saat itu. Nicholas Copernicus, Socrates, John Huss, dan Gallileo Gallilei adalah beberapa contohnya. Selain itu ada pula beberapa kejadian dimana ilmu harus didasarkan pada nilai moral yang berlaku pada saat itu, walaupun hal tersebut bersumber dari pernyataan-pernyataan di luar bidang keilmuan (misalnya agama).
Karena berbagai sebab diatas, maka para ilmuwan berusaha untuk mendapatkan otonomi dalam mengembangkan ilmu yang sesuai dengan kenyataan. Setelah pertarungan ideologis selama kurun waktu 250 tahun, akhirnya para ilmuwan mendapatkan kebebasan dalam mengembangkan ilmu tanpa dipengaruhi berbagai hal yang bersifat dogmatik.
Kebebasan tadi menyebabkan para ilmuwan mulai berani mengembangkan ilmu secara luas. Pada akhirnya muncullah berbagai konsep ilmiah yang di-kongkret-kan dalam bentuk tekhnik. Yang dimaksud tekhnik disini adalah penerapan ilmu dalam berbagai pemecahan masalah. Yang menjadi tujuan ialah bukan saja untuk mempelajari dan memahami berbagai faktor yang berkaitan dengan masalah-masalah manusia, tetapi juga untuk mengontrol dan mengarahkannya. Hal ini menandai berakhirnya babak awal ketersinggungan ilmu dengan moral.
Pada masa selanjutnya, ilmu kembali dikaitkan dengan masalah moral yang berbeda. Yaitu berkaitan dengan penggunaan pengetahuan ilmiah. Maksudnya terdapat beberapa penggunaan teknologi yang justru merusak kehidupan manusia itu sendiri. Dalam menghadapi masalah ini, para ilmuwan terbagi menjadi dua pandangan.
Kelompok pertama memandang bahwa ilmu harus bersifat netral dan terbebas dari berbagai masalah yang dihadapi pengguna. Dalam hal ini tugas ilmuwan adalah meneliti dan menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain akan menggunakan pengetahuan tersebut atau tidak, atau digunakan untuk tujuan yang baik atau tidak.
Kelompok lainnya memandang bahwa netralitas ilmu hanya pada proses penemuan ilmu saja, dan tidak pada hal penggunaannya. Bahkan pada pemilihan bahan penelitian, seorang ilmuwan harus berlandaskan pada nilai-nilai moral. Kelompok ini mendasarkan pandangannya pada beberapa hal, yakni:
• Sejarah telah membuktikan bahwa ilmu dapat digunakan sebagai alat penghancur peradaban, hal ini dibuktikan dengan banyaknya perang yang menggunakan teknologi-teknologi keilmuan.
• Ilmu telah berkembang dengan pesat dan para ilmuwan lebih mengetahui akibat-akibat yang mungkin terjadi serta pemecahan-pemecahannya, bila terjadi penyalah gunaan.
Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan diatas, maka kelompok kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat manusia.

Tanggung Jawab Sosial Ilmuwan
Ilmu merupakan hasil karya seseorang yang dikomunikasikan dan dikaji secara luas oleh masyarakat. Jika hasil karanyanya itu memenuhi syarat-syarat keilmuan, maka karya ilmiah itu, akan menjadi ilmu pengetahuan dan digunakan oleh masyarakat luas. Maka jelaslah jika ilmuwan memiliki tanggung jawab yang besar, bukan saja karena ia adalah warga masyarakat, tetapi karena ia juga memiliki fungsi tertentu dalam masyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan, tidak hanya sebatas penelitian bidang keilmuan, tetapi juga bertanggung jawab atas hasil penelitiannya agar dapat digunakan oleh masyarakat. Serta bertanggung jawab dalam mengawal hasil penelitiannya agar tidak disalah gunakan.
Selain itu pula, dalam masyarakat seringkali terdapat berbagai masalah yang belum diketahui pemecahannya. Maka ilmuwan sebagai seorang yang terpandang, dengan daya analisisnya diharapkan mampu mendapatkan pemecahan dari masalah tersebut. Seorang ilmuwan dengan kemampuan berpikirnya mampu mempengaruhi opini masyarakat terhadap suatu masalah.
Tanggung jawab sosial lainnya dari seorang ilmuwan adalah dalam bidang etika. Dalam bidang etika ilmuwan harus memposisikan dirinya sebagai pemberi contoh. Seorang ilmuwan haruslah bersifat obyektif, terbuka, menerima kritik dan pendapat orang lain, kukuh dalam pendiriannya, dan berani mengakui kesalahannya. Semua sifat ini beserta sifat-sifat lainnya, merupakan implikasi etis dari berbagai proses penemuan ilmiah. Sudah seharusnya pula terdapat dalam diri seorang ilmuwan sebagai suri tauladan dalam masyarakat.

Kesimpulan
Ilmu sebagai sebuah hasil dari penelitian, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk teknologi semakin mempermudah manusia dalam berbagai pemecahan masalahnya. Dalam penggunaannya, teknologi amat bergantung pada tujuan penggunanya. Bahkan teknologi terbaik pun dapat sangat membahayakan apabila digunakan untuk menghancurkan.
Dalam berbagai hal, keberadaan ilmu pengetahuan memang selalu bersinggungan dengan nilai-nilai moral yang terdapat dalam masyarakat. Oleh karena itu, ilmu pengetahuan dan teknologi haruslah digunakan secara bijak agar keberadaannya tidak merusak sendi-sendi kehidupan manusia secara luas.
Di sisi lainnya, ilmuwan selaku peneliti dan penemu ilmu pengetahuan yang dikenal luas oleh masyarakat juga memiliki peranan penting dalam kehidupan masyarakat. Disamping itu juga, ia harus mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi masyarakatnya.

Sumber: Jujun S. Suriasumantri, Filsafat Ilmu

0 komentar: