kalo udah baca silahkan kasih komentar...Bebas asal tidak SARA.Thanks. Buat sementara bakal diposting 1 minggu sekali...
Setiap RE-POST akan ditampilkan sumber aslinya,,jadi mohon bagi yang repost tulisan saya juga menampilkan sumber ini...JANGAN MEMBAJAK!!!
(jika anda ingin me-repost. harap memberi komen. lalu saya akan mengirimnya melalui email anda.hatur nuhun)

Notasi Ilmiah


Notasi ilmiah adalah pencantuman sumber rujukan yang digunakan dalam sebuah karya ilmiah. Pencantuman tersebut dimaksudkan untuk menghindari tuduhan plagiat dan untuk memberikan kemudahan bagi peneliti maupun penerima untuk mengetahui sumber rujukan, terutama jika diperlukan penelitian ulang atau penelitian lanjutan di kemudian hari.
Pada umumnya notasi ilmiah terbagi menjadi tiga jenis, yaitu kutipan berjalan (running note), catatan kaki (footnote) atau catatan akhir (endnote) dan daftar pustaka.
1)      Kutipan Berjalan (Running Note)
Kutipan Berjalan (Running note) ialah pencantuman sumber rujukan yang disisipkan pada akhir atau awal pernyataan ilmiah yang dikemukakan oleh orang lain. Kutipan berjalan digunakan dalam penulisan ilmiah apabila bahan rujukan terdiri dari banyak buku teks atau sumber lain yang jelas nama pengarang/penulis, tahun penerbitan dan halamannya. Tetapi apabila dalam karya ilmiah terdapat atau banyak menggunakan sumber dari majalah, surat kabar, dan internet, lebih baik menggunakan sistem footnote mengingat dari sumber-sumber tersebut seringkali tidak dicantumkan pengarang/penulisnya dan sumber-sumber tersebut memiliki penomoran halaman yang berbeda (dalam koran menggunakan angka Romawi dan dalam internet menggunakan perpaduan huruf dan angka). Sehingga kalau dipaksakan akan kurang enak dilihat.
§  Bentuk-Bentuk Kutipan Berjalan
a.       Jika rujukan merupakan pernyataan penuh
Bentuk: Nama Pengarang (Tahun:Hal)
Contoh: Morgenthau (1987:25)
b.      Jika rujukan merupakan sebagian pernyataan
Bentuk: (Nama Pengarang, Tahun:Hal)
Contoh: (Morgenthau, 1987:25)
c.       Jika penulis menggunakan nama keluarga, maka harus ditulis nama keluarganya saja.
Contoh: Anwar Nasution, maka ditulis Nasution saja
d.      Jika rujukan ditulis oleh dua orang, maka keduanya harus ditulis
Contoh: “.... seperti yang telah dinyatakan sebelumnya. (Dougherty & Pfalztgraf, 1991:94)” atau “Ade Priangani dan Sigid Harimurti (2004:81) mengemukakan bahwa...”
e.        Jika rujukan ditulis oleh tiga orang atau lebih, maka hanya ditulis nama pengarang pertama diikuti oleh “et al.”
Contoh: “.... dan menjadi isu global yang memanas. (Rogers et al, 1986:206)” atau “O’Donnel et al. (1992:57) menyatakan...”
f.       Jika rujukan ditulis oleh lembaga, maka nama lembaga dapat ditulis lengkap atau dapat disingkat.
Contoh: (Departemen Dalam Negeri Republik Indonesia, 1988:14) atau (LIPI, 1997:22)

2)      Catatan Kaki (Footnote) atau Catatan Akhir (Endnote)
Catatan kaki (footnote) ialah pencantuman sumber rujukan ditempatkan di bawah halaman yang mencantumkan rujukan dari luar. Catatan Kaki digunakan dalam penulisan ilmiah apabila bahan rujukan terdiri dari banyak buku, wawancara, koran, internet, maupun sumber lainnya. Selain itu juga footnote dapat digunakan untuk menerangkan atau memberi informasi tentang masalah-masalah dalam teks pada halaman tersebut. Misal: singkatan, simbol atau istilah-istilah asing.
Sedangkan catatan akhir (endnote) digunakan jika banyak halaman yang memiliki banyak catatan kaki, sehingga penulisannya disatukan dan ditempatkan pada akhir bagian penulisan (BAB).
§  Bentuk-Bentuk Footnote
a.       Rujukan dari buku teks
Bentuk: Nama Pengarang tidak dibalik dan tanpa gelar, Judul Buku (Tempat Penerbitan: Nama Penerbit, Tahun Terbit), halaman.
Contoh: Qystein Noreng, Minyak dalam Politik: Upaya mencapai Konsensus Internasional (Jakarta: Rajawali Pers, 1983), hal. 11-13
b.      Rujukan dari buku terjemahan
Bentuk: Nama Pengarang tidak dibalik dan tanpa gelar, Judul Buku (Nama Penterjemah) (Tempat Penerbitan: Nama Penerbit, Tahun Terbit), halaman.
Contoh: K.J Holsti, Politik Internasional: Suatu Kerangka Analisis (Terjemahan Wawan Juwanda) (Bandung: Binacipta, 1992), hal. 123-124
c.       Rujukan dari artikel, worksheet, makalah atau paper
Bentuk: Nama Pengarang tidak dibalik dan tanpa gelar, “Judul Artikel”, Media Artikel, Tempat dan Tanggal Terbit, halaman.
Contoh: Rizal Sukma, “ASEAN mencari format baru”, Harian KOMPAS, Jakarta 21 Mei 1998, hal. IV.
d.      Rujukan dari wawancara
Bentuk: Nama Sumber, Status Sumber, Tempat Wawancara, Waktu Wawancara.
Contoh: Wawancara dengan Dewi Fortuna Anwar, Pengamat Politik Internasional, Jakarta, 14 Januari 2003.
e.       Rujukan dari internet
Bentuk: Nama Sumber (dapat dihilangkan jika tidak ada), “Judul Artikel”, Nama Website, Tempat, tanggal dan tahun terbit, Alamat sumber rujukan di internet, Keterangan tanggal mengakses.
Contoh: Irman G. Lanti, “Comparing Ethnic Minorities in Control and in Hegemonic Consociational Situations: The Political and Economic Roles of the Chinese in Malaysia and Indonesia”, Graduate Journal of Asia-Pasific Studies, Volume 2 Number 1 Tahun 2004 dalam http://www.arts.auckland.ac.nz./sites/index.cfm?P=5738., diakses 18 Januari 2005

Tidak jarang dalam penulisan footnote maupun endnote, terdapat sumber yang sama. Maka untuk menghindari penulisan ulang, digunakanlah istilah Ibid, Op. Cit, dan Loc. Cit dengan ketentuan sebagai berikut:
§  Ibid
Berasal dari bahasa Latin Ibidem, yang berarti “pada tempat yang sama”. Digunakan apabila terdapat rujukan pada sumber yang sama berturut-turut tanpa disela oleh sumber yang lain. Jika rujukan pada sumber yang sama tetapi berlainan halaman, “Ibid” tetap digunakan dan ditambah dengan keterangan halaman. Hal ini tetap berlaku walaupun rujukan yang satu dengan lainnya berlainan halaman dalam karya ilmiah.
Contoh:  
  1. K.J Holsti, Politik Internasional: Suatu Kerangka Analisis (Terjemahan Wawan Juwanda) (Bandung: Binacipta, 1992), hal. 123-124.
  2. Ibid.
  3. Ibid., hal. 97-99
§  Op. Cit
Berasal dari bahasa Latin Opere Citato, yang berarti “dalam tempat tersebut”. Digunakan apabila sumber pertama ingin diulang dengan halaman berdeda, tetapi sudah disela oleh sumber yang lain.
Contoh:
  1. K.J Holsti, Politik Internasional: Suatu Kerangka Analisis (Terjemahan Wawan Juwanda) (Bandung: Binacipta, 1992), hal. 123-124.
  2. Qystein Noreng, Minyak dalam Politik: Upaya mencapai Konsensus Internasional (Jakarta: Rajawali Pers, 1983), hal. 11-13
  3. Rizal Sukma, “ASEAN mencari format baru”, Harian KOMPAS, Jakarta 21 Mei 1998, hal. IV.
  4. K.J Holsti, Op.Cit., hal. 148.
§  Loc. Cit
Berasal dari bahasa Latin Locate Citato, yang berarti “dalam tempat tersebut”. Digunakan apabila sumber pertama ingin diulang dengan halaman sama, tetapi sudah disela oleh sumber yang lain.
Contoh: 
  1. Qystein Noreng, Minyak dalam Politik: Upaya mencapai Konsensus Internasional (Jakarta: Rajawali Pers, 1983), hal. 11-13
  2. K.J Holsti, Politik Internasional: Suatu Kerangka Analisis (Terjemahan Wawan Juwanda) (Bandung: Binacipta, 1992), hal. 123-124.
  3. Rizal Sukma, “ASEAN mencari format baru”, Harian KOMPAS, Jakarta 21 Mei 1998, hal. IV.
  4. Qystein Noreng, Loc.Cit.
3)      Daftar Pustaka
Daftar pustaka merupakan daftar yang berisi buku, makalah, artikel, berita, atau bahan lainnya yang dikutip baik secara langsung maupun tidak langsung. Pada dasarnya, unsur yang ditulis dalam daftar pustaka secara berturut-turut meliputi:
a.  Nama pengarang ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal dan nama tengah, tanpa gelar akademik.
b.      Tahun penerbitan
c.       Judul, termasuk sub judul
d.      Tempat penerbitan
e.       Nama penerbit.
Unsur-unsur tersebut dapat bervariasi tergantung jenis sumber pustakanya. Jika penulisnya lebih dari satu, cara penulisannya sama dengan penulis pertama.
Apabila sumber rujukan sangat banyak, ada baiknya jika penulisannya diklasifikasikan ke dalam kelompok-kelompok berikut:
  • Buku-Buku
  • Artikel dan Makalah dalam Jurnal Ilmiah, Majalah dan Surat Kabar
  • Dokumen Resmi
  • skripsi, Tesis, Disertasi, Makalah/Worksheet/Paper dalam Diskusi Panel, Seminar, Workshop, Konferensi, dan lain-lain
  • Wawancara 
  • Internet

0 komentar: