kalo udah baca silahkan kasih komentar...Bebas asal tidak SARA.Thanks. Buat sementara bakal diposting 1 minggu sekali...
Setiap RE-POST akan ditampilkan sumber aslinya,,jadi mohon bagi yang repost tulisan saya juga menampilkan sumber ini...JANGAN MEMBAJAK!!!
(jika anda ingin me-repost. harap memberi komen. lalu saya akan mengirimnya melalui email anda.hatur nuhun)

Metode Penelitian Sosial

Sudah menjadi tabiat manusia untuk selalu memenuhi rasa ingin tahu atas segala hal. Dengan akal pikiranlah manusia terus-menerus berusaha untuk mengetahui berbagai fenomena yang ada dalam kehidupannya. Termasuk dalam bidang-bidang sosial kemasyarakatan. Maka dari hal itulah, filsafat – sebagai sebuah cabang ilmu yang paling kuno – terus menerus mengalami perkembangan dan beranak-pinak menjadi berbagai teori keilmuan, termasuk dalam ilmu sosial.

Untuk mendapatkan berbagai penjelasan dan kebenaran atas berbagai fenomena sosial yang terjadi, maka manusia melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya, yang mana cara-cara tersebut, secara umum dapat dikelompokkan menjadi:
· Pendekatan Un-Scientific
Merupakan pencarian kebenaran melalui cara-cara yang sederhana, yaitu: secara kebetulan, trial and error, dan berdasarkan pada otoritas seseorang.
· Pendekatan Kritik Rasional dan Scientific Research
Merupakan ranah dari ilmuwan. Karena penemuan kebenaran pada kelompok ini merupakan penemuan kebenaran berdasarkan pada penelitian, dan pengembangan dari teori-teori sebelumnya.
o Pendekatan Kritik Rasional, merupakan penemuan kebenaran melalui upaya berpikir secara menyeluruh, menghubungkan antara satu objek dengan objek lainnya, membuat hipotesis, mengkajinya dengan antitesis, kemudian menghasilkan tesis. Meskipun penemuan kebenaran dari cara ini belum tentu disebut sebagai produk ilmiah. Adapu pendekatan kritit rasional dapat dilakukan melalui tiga cara, yakni:
§ Berpikir Analitis (Deduktif), dimana pola pikir berangkat dari hal-hal yang bersifat umum (pengetahuan, teori, hukum, dalil tertentu) baru kemudian membentuk silogisme (argumen) yang terdiri dari tiga buah proposisi. Dimana kedua proposisi berbentuk Premis Mayor dan Premis Minor, sedangkan yang ketiga adalah konklusi.
§ Berpikir Sintesis (Induktif), kebalikan dari berpikir analitis, yakni pola pikir berangkat dari fakta, kasus, maupun fenomena baru diolah untuk menuju pada konklusi yang umum. Proses berpikir induktif terbagi menjadi tiga bentuk, yakni: induksi komplit, induksi tidak komplit, dan induksi Bacon.
o Scientific Research, merupakan jawaban atas kegelisahan pencarian kebenaran melalui pendekatan kritik-rasional. Scientific Research merupakan upaya berpikir reflektif yang menggabungkan proses berpikir induktif dan deduktif. Proses ini yang kemudian populer sebagai proses penemuan kebenaran ilmiah. John Dewey mengemukakan langkah-langkah yang dilakukan dalam proses ini, yaitu: (a) Adanya Kebutuhan, (b) Menetapkan Masalah, (c) Menyusun Hipotesis, (d) Merekam Data Untuk Pembuktian, (e) Membuat Kesimpulan yang Diyakini Kebenarannya, (f) Memformulasikan Kesimpulan Secara Umum.
Dalam melakukan penelitian ilmiah dalam ranah ilmu sosial, terdapat dua metode yang lazim digunakan, yakni metode penelitian kuantitatif dan metode penelitian kualitatif. Dimana untuk memahaminya, kita perlu flashback ke persaingan dua aliran filsafat besar, yakni positivistik, dan fenomenologis.
· Metode Kuantitatif
Metode kuantitatif lahir dari alam berpikir Inggris dan Prancis yang sedemikian terobsesi pada Aristoteles yang beranggapan bahwa manusia, serupa dengan fenomena alam lain, merupakan sesuatu yang bersifat materi. Sementara jiwa tak ubahnya seperti kertas putih (tabula rasa) yang merupakan hasil gambaran indrawi manusia.
Oleh karenanya, dalam mengembangkan ilmu tentang manusia (ilmu sosial), harus didasarkan atas kriteria-kriteria eksplanatoris dan prediktif. Maka demi memenuhi kriteria tersebut maka semua ilmu sosial harus memiliki pandangan positivistik, yakni: objektif (bebas nilai), fenomenalisme (teramati), reduksionisme (direduksi menjadi fakta-fakta yang dapat pasti), dan natural (memiliki mekanisme yang sama).
Oleh karena itu, dalam lingkup penelitian sosial, wilayah penelitian kuantitatif hanya dapat digunakan pada kajian-kajian yang tampak, dapat diamati, dapat dikonsepkan dan dapat diukur. Lebih dari itu, metode penelitian kuantitatif dalam penelitian sosial berada pada penelitian-penelitian dengan karakteristik objek yang: (1) Memiliki wilayah yang luas, (2) Memiliki variabel yang kompleks, (3) Berada di permukaan, (4) Mempersoalkan frekuensi, (5) Mempertanyakan masalah, (6) Pengukurannya jelas, (7) Alat ukur statistik, (8) Perekaman data bisa dilakukan siapapun asal menggunakan alat.
· Metode Kualitatif
Sementara itu metode kualitatif muncul dar kegelisahan peneliti ilmu sosial terhadap metode kuantitatif yang memandang bahwa fenomena sosial dapat digeneralisir tanpa memandang berbagai aspek kemasyarakatan yang mungkin berbeda antar masyarakat.
Pemikiran atas metode kualitatif, muncul dari tradisi pemikiran Jerman yang mengadopsi pemikiran humanis ala Plato. Plato memandang manusia sebagai manusia, bahkan melihat manusia dipengaruhi oleh rasio-nya, sehingga memiliki idealisme. Gagasan ini kemudian berkembang menjadi aliran fenomenologis, dimana menyadari bahwa setiap fenomena tidaklah terlepas dari kesadaran subjeknya.
Pendekatan kualitatif, sebagai lawan dari positivisme, disebut juga sebagai postpositivisme, yang lahir dari kesadaran atas: (1) hubungan antara pengamat atau peneliti dengan fenomena tidak bisa dipisahkan, seperti yang diusulkan oleh positivisme. Aliran ini menyatakan bahwa tidak mungkin tercapai kebenaran, jika seorang peneliti hanya berada di belakang layar tanpa terlibat langsung dengan apa yang diamatinya. (2) pendekatan eksperimental dengan observasi saja tidaklah cukup, tetapi pencarian kebenaran harus melalui metode triangulasi antara berbagai metode, sumber data, idealisme peneliti, serta sumber data. Oleh karena itu, peneliti kualtatif ialah peneliti yang memiliki tingkat kritisme yang lebih dalam pada semua proses penelitian.
Adapun karakteristik objek dalam penelitian kualitatif ialah: (1) Memiliki wilayah yang sempit, (2) Memiliki variabel yang sederhana namun rumit pada konten-nya, (3) Berada di kedalaman, (4) Mempersoalkan makna, (5) Mempertanyakan fenomena, (6) Pengukurannya rumit, (7) Alat ukur peneliti sendiri, (8) Perekaman data hanya dapat dilakukan oleh peneliti, dengan atau tanpa alat.

Bahan Bacaan:


Bungin, Burhan. 2008. Metode Penelitian Kualitatif. Surabaya : Prenada Media Kencana Group, 2008.
—. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif. Surabaya : Prenada Kencana Media Group, 2010.

0 komentar: